Jambi, Kamis, 20 Agutus 2026 — Dalam rangka mendukung upaya pelestarian lingkungan dan kebersihan Sungai Batanghari, perwakilan Program Studi pariwisata syariah menghadiri kegiatan sosialisasi Gerakan Batanghari Bersih yang diselenggarakan oleh Dinas Pariwisata Provinsi Jambi. Kegiatan tersebut berlangsung di Taman Mini Melayu Jambi dan diikuti oleh berbagai unsur masyarakat serta peserta kegiatan.
Kehadiran perwakilan Program Studi tersebut merupakan bentuk dukungan terhadap berbagai program pemerintah Provinsi Jambi dalam meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap kelestarian lingkungan, khususnya kawasan Sungai Batanghari sebagai salah satu ikon dan sumber daya penting bagi Provinsi Jambi.
Kegiatan sosialisasi Gerakan Batanghari Bersih menjadi momentum untuk meningkatkan kesadaran bersama mengenai pentingnya menjaga kebersihan sungai serta lingkungan di sekitarnya. Sungai Batanghari tidak hanya memiliki nilai ekologis, tetapi juga memiliki nilai sejarah, budaya, pariwisata, dan ekonomi bagi masyarakat Jambi.
Dalam kegiatan tersebut, peserta memperoleh pemahaman mengenai pentingnya keterlibatan berbagai pihak dalam menjaga kebersihan dan kelestarian Sungai Batanghari. Gerakan tersebut diharapkan dapat mendorong terbentuknya kepedulian dan partisipasi aktif masyarakat dalam menjaga lingkungan secara berkelanjutan.
Perwakilan Program Studi menyampaikan bahwa keterlibatan dalam kegiatan tersebut merupakan bagian dari komitmen perguruan tinggi untuk mendukung program pemerintah dan membangun kepedulian civitas akademika terhadap isu lingkungan.
Melalui kegiatan ini, diharapkan sinergi antara pemerintah, perguruan tinggi, masyarakat, serta berbagai pihak lainnya dapat terus diperkuat dalam mewujudkan Sungai Batanghari yang bersih, sehat, dan berkelanjutan.
Kegiatan sosialisasi berlangsung dengan baik dan menjadi salah satu langkah untuk memperkuat gerakan bersama dalam menjaga lingkungan serta menjadikan Sungai Batanghari sebagai bagian penting dari identitas dan potensi pariwisata Provinsi Jambi.
Oleh : Dr. Kemas Imron Rosadi, M.Pd WD 3 FEBI, Dosen Pascasarjana UIN STS Jambi
Jambi — Kepemimpinan merupakan salah satu kemampuan penting yang harus dipersiapkan sejak dini. Seorang pemimpin tidak hanya dituntut memiliki kemampuan intelektual, tetapi juga membutuhkan karakter, kedisiplinan, keberanian mengambil keputusan, kemampuan bekerja sama, serta kepedulian terhadap lingkungan dan masyarakat.
Di tengah perubahan zaman yang semakin cepat, kebutuhan terhadap generasi muda yang memiliki kemampuan kepemimpinan semakin besar. Perkembangan teknologi, perubahan sosial, tantangan ekonomi, serta persaingan global menuntut lahirnya generasi yang mampu beradaptasi tanpa kehilangan nilai-nilai moral dan kebangsaan.
Dalam konteks tersebut, Gerakan Pramuka memiliki posisi strategis sebagai salah satu wadah pembentukan karakter dan kepemimpinan generasi muda.
Pramuka sebagai Ruang Belajar Kepemimpinan
Kepemimpinan tidak cukup dipelajari melalui teori. Kemampuan memimpin membutuhkan pengalaman, latihan, dan pembiasaan dalam menghadapi berbagai situasi.
Kegiatan kepramukaan memberikan ruang kepada peserta didik untuk belajar bertanggung jawab terhadap tugas, bekerja dalam kelompok, mengambil keputusan, menyelesaikan persoalan, serta menghargai perbedaan pendapat.
Dalam kegiatan beregu, misalnya, setiap anggota memiliki peran dan tanggung jawab yang harus dijalankan. Pengalaman tersebut secara perlahan membangun kepercayaan diri sekaligus mengajarkan bahwa kepemimpinan bukan hanya tentang memerintah, tetapi juga tentang kemampuan mendengarkan, bekerja sama, dan memberikan contoh.
Dari proses tersebut, Pramuka menjadi ruang pembelajaran kepemimpinan yang berlangsung melalui pengalaman nyata.
Membentuk Karakter Sebelum Menjadi Pemimpin
Seorang pemimpin yang baik tidak hanya diukur dari kemampuan mencapai tujuan, tetapi juga dari karakter yang dimilikinya.
Nilai-nilai dalam pendidikan kepramukaan mengajarkan pentingnya kedisiplinan, tanggung jawab, kemandirian, kejujuran, kerja sama, dan kepedulian terhadap sesama. Nilai tersebut menjadi fondasi penting bagi generasi muda sebelum mereka memasuki dunia pendidikan tinggi, dunia kerja, organisasi, maupun kehidupan bermasyarakat.
Kepemimpinan yang dibangun tanpa karakter dapat kehilangan arah. Sebaliknya, kemampuan kepemimpinan yang dilandasi karakter dan integritas akan menghasilkan pribadi yang mampu menggunakan kewenangannya secara bertanggung jawab.
Karena itu, pembentukan karakter harus menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari proses menyiapkan pemimpin masa depan.
Melatih Kemandirian dan Tanggung Jawab
Salah satu nilai penting yang dapat diperoleh melalui kegiatan Pramuka adalah kemandirian.
Berbagai kegiatan seperti perkemahan, penjelajahan, latihan keterampilan, kegiatan sosial, dan kerja kelompok mengajarkan peserta untuk menghadapi situasi dengan kemampuan yang dimiliki.
Peserta Pramuka tidak hanya diarahkan untuk menyelesaikan tugas, tetapi juga belajar bertanggung jawab terhadap pilihan dan keputusan yang dibuat.
Kemandirian tersebut menjadi bekal penting bagi generasi muda. Seorang pemimpin masa depan harus memiliki kemampuan untuk mengambil keputusan secara bijaksana, tidak mudah bergantung kepada orang lain, serta mampu mempertanggungjawabkan setiap keputusan yang diambil.
Pramuka dan Kepemimpinan di Era Digital
Perubahan teknologi menghadirkan tantangan baru bagi generasi muda. Kepemimpinan masa depan tidak lagi hanya membutuhkan kemampuan berkomunikasi secara langsung, tetapi juga membutuhkan literasi digital.
Generasi muda perlu memiliki kemampuan untuk menggunakan teknologi secara bijak, menyaring informasi, menghindari penyebaran informasi yang tidak benar, serta memanfaatkan media digital untuk kegiatan yang produktif.
Pramuka juga perlu beradaptasi dengan perkembangan tersebut. Semangat kepramukaan dapat dikembangkan melalui pemanfaatan teknologi dalam pendidikan, komunikasi, kegiatan sosial, kreativitas, dan inovasi.
Dengan demikian, menjadi Pramuka pada era digital tidak berarti meninggalkan nilai-nilai dasar kepramukaan. Sebaliknya, teknologi dapat menjadi sarana untuk memperluas manfaat dan memperkuat nilai-nilai tersebut.
Kepemimpinan yang Berorientasi pada Pengabdian
Kepemimpinan pada hakikatnya bukan hanya mengenai posisi atau jabatan. Kepemimpinan juga berkaitan dengan kemampuan memberikan manfaat kepada orang lain.
Kegiatan sosial dan pengabdian yang menjadi bagian dari aktivitas kepramukaan dapat menumbuhkan kepedulian terhadap lingkungan sekitar. Peserta belajar bahwa persoalan masyarakat membutuhkan kepedulian, kerja sama, dan tindakan nyata.
Dari sinilah dapat tumbuh pemahaman bahwa seorang pemimpin seharusnya tidak hanya berpikir mengenai kepentingan dirinya sendiri, tetapi juga memiliki tanggung jawab terhadap kelompok dan masyarakat yang dipimpinnya.
Pemimpin masa depan membutuhkan jiwa pengabdian, bukan sekadar ambisi untuk memperoleh kekuasaan.
Menyiapkan Generasi Pemimpin Masa Depan
Indonesia membutuhkan generasi muda yang mampu menghadapi perubahan sekaligus tetap memiliki karakter kebangsaan.
Generasi tersebut harus memiliki kemampuan akademik, keterampilan sosial, literasi teknologi, kreativitas, keberanian berinovasi, serta integritas.
Pramuka dapat menjadi salah satu ruang strategis untuk menumbuhkan berbagai kemampuan tersebut. Melalui kegiatan yang terstruktur dan pengalaman langsung, peserta mendapatkan kesempatan untuk belajar memimpin, dipimpin, bekerja sama, mengambil keputusan, dan menyelesaikan persoalan.
Pengalaman tersebut menjadi modal yang berharga ketika mereka memasuki lingkungan yang lebih luas.
Dari Pramuka untuk Masa Depan Bangsa
Membangun kepemimpinan tidak dapat dilakukan secara instan. Ia membutuhkan proses panjang yang dimulai dari pembentukan karakter, pembiasaan bertanggung jawab, pengalaman bekerja sama, serta keberanian menghadapi tantangan.
Gerakan Pramuka memiliki peluang besar untuk menjadi bagian dari proses tersebut. Pramuka bukan sekadar aktivitas kepemudaan, tetapi dapat menjadi ruang pendidikan karakter yang mempersiapkan generasi muda menghadapi masa depan.
Di tengah berbagai perubahan global, bangsa Indonesia membutuhkan pemimpin yang tidak hanya cerdas, tetapi juga berintegritas, mandiri, adaptif, peduli, dan memiliki semangat pengabdian.
Karena itu, investasi terhadap pendidikan kepramukaan merupakan bagian dari investasi terhadap masa depan bangsa.
Pramuka hari ini adalah generasi yang sedang ditempa. Dari mereka, diharapkan lahir pemimpin-pemimpin masa depan yang mampu membawa Indonesia menjadi bangsa yang semakin kuat, berkarakter, dan berdaya saing.
Oleh : Dr. Kemas Imron Rosadi, M.Pd WD 3 FEBI, Dosen Pascasarjana UIN STS Jambi
Jambi — Kemerdekaan Indonesia yang diperingati setiap 17 Agustus bukan sekadar momentum seremonial untuk mengenang perjuangan para pendiri bangsa. Kemerdekaan juga merupakan ruang untuk merefleksikan sejauh mana bangsa ini mampu mengisi kebebasan dengan pembangunan yang berkelanjutan dan peningkatan kualitas kehidupan masyarakat.
Di tengah perubahan dunia yang semakin cepat, pendidikan menjadi salah satu fondasi utama dalam menjaga keberlanjutan kemerdekaan. Pendidikan tidak hanya berfungsi sebagai sarana memperoleh pengetahuan, tetapi juga merupakan investasi strategis dalam membangun sumber daya manusia yang mampu menghadapi perubahan teknologi, persaingan ekonomi, serta berbagai persoalan sosial yang dihadapi bangsa.
Memaknai Kemerdekaan di Tengah Perubahan Zaman
Makna kemerdekaan pada masa kini memiliki tantangan yang berbeda dengan masa perjuangan fisik. Jika dahulu bangsa Indonesia berjuang untuk terbebas dari penjajahan, maka generasi saat ini menghadapi bentuk tantangan yang lebih kompleks.
Ketergantungan terhadap teknologi, perubahan struktur ekonomi, persaingan sumber daya manusia, perkembangan kecerdasan buatan, serta derasnya arus informasi menjadi bagian dari realitas kehidupan masyarakat modern.
Kemerdekaan pada akhirnya tidak cukup hanya dimaknai sebagai kebebasan menentukan pilihan. Kemerdekaan juga harus dimaknai sebagai kemampuan bangsa untuk berdiri secara mandiri, menguasai ilmu pengetahuan, mengembangkan teknologi, serta memiliki sumber daya manusia yang mampu menentukan arah masa depannya sendiri.
Dalam konteks tersebut, pendidikan memiliki posisi yang sangat strategis.
Pendidikan Menghadapi Tantangan Global
Perkembangan teknologi digital dan kecerdasan buatan telah mengubah cara manusia bekerja, belajar, berkomunikasi, dan menjalankan aktivitas ekonomi.
Dunia kerja tidak lagi hanya membutuhkan lulusan yang memiliki ijazah, tetapi juga membutuhkan kemampuan berpikir kritis, kreativitas, komunikasi, kolaborasi, literasi digital, kemampuan beradaptasi, serta kemampuan memecahkan masalah.
Generasi muda karena itu tidak cukup hanya menjadi pengguna teknologi. Mereka harus mampu memahami teknologi, memanfaatkannya secara produktif, serta mengembangkan inovasi yang memberikan nilai tambah bagi masyarakat.
Perguruan tinggi memiliki tanggung jawab besar dalam mempersiapkan generasi tersebut. Pembelajaran harus mampu menghubungkan teori dengan persoalan nyata, sementara penelitian dan inovasi harus diarahkan untuk menjawab kebutuhan masyarakat dan perkembangan dunia usaha.
Pendidikan juga harus berjalan beriringan dengan penguatan karakter. Kemajuan teknologi tanpa diimbangi etika dan tanggung jawab dapat menimbulkan persoalan baru. Karena itu, kecerdasan intelektual harus berjalan bersama dengan integritas, moral, dan kepedulian sosial.
Pendidikan sebagai Investasi Pembangunan Bangsa
Memandang pendidikan sebagai investasi berarti melihat pengeluaran untuk pendidikan bukan semata-mata sebagai biaya, melainkan sebagai modal pembangunan jangka panjang.
Investasi pendidikan memang tidak selalu memberikan hasil secara langsung. Namun, kualitas pendidikan akan menentukan kualitas tenaga kerja, produktivitas ekonomi, kemampuan inovasi, serta daya saing suatu bangsa.
Bangsa yang memiliki sumber daya manusia berkualitas akan memiliki kemampuan lebih besar untuk menciptakan produk, mengembangkan teknologi, membuka lapangan pekerjaan, dan menyelesaikan berbagai persoalan sosial.
Sebaliknya, rendahnya kualitas sumber daya manusia dapat menjadi hambatan bagi pembangunan meskipun suatu negara memiliki sumber daya alam yang melimpah.
Karena itu, investasi pendidikan harus dilakukan secara konsisten dan tidak hanya berorientasi pada pembangunan sarana fisik. Peningkatan kualitas guru dan dosen, penguatan riset, pengembangan kompetensi mahasiswa, pemerataan akses pendidikan, serta pemanfaatan teknologi dalam pembelajaran juga harus menjadi bagian dari investasi tersebut.
Menjawab Problematika Negeri
Pendidikan tidak hanya dituntut untuk menjawab tantangan global, tetapi juga harus mampu memberikan kontribusi terhadap berbagai persoalan di dalam negeri.
Persoalan kemiskinan, pengangguran, ketimpangan sosial, rendahnya produktivitas, kesenjangan antarwilayah, dan perubahan kebutuhan dunia kerja membutuhkan sumber daya manusia yang memiliki kompetensi dan kemampuan inovasi.
Pendidikan yang berkualitas dapat menjadi salah satu jalan untuk meningkatkan mobilitas sosial. Masyarakat yang memiliki akses terhadap pendidikan yang baik memiliki peluang lebih besar untuk memperoleh pekerjaan yang layak, meningkatkan produktivitas, dan memperbaiki kesejahteraan.
Selain itu, pendidikan juga memiliki peran penting dalam memanfaatkan bonus demografi. Besarnya jumlah penduduk usia produktif dapat menjadi kekuatan ekonomi apabila dibarengi dengan kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan zaman.
Namun, bonus demografi bukanlah keuntungan yang otomatis. Tanpa pendidikan dan keterampilan yang memadai, jumlah penduduk usia produktif justru dapat menghadirkan persoalan berupa pengangguran dan rendahnya produktivitas.
Karena itu, pendidikan harus mampu menjembatani kebutuhan antara dunia akademik dan dunia kerja.
Perguruan Tinggi dan Ekonomi Masa Depan
Perguruan tinggi memiliki peran penting dalam membangun ekosistem pengetahuan dan inovasi. Kampus tidak hanya menjadi tempat memperoleh gelar akademik, tetapi juga harus menjadi ruang bagi mahasiswa untuk mengembangkan gagasan, kreativitas, kewirausahaan, dan kemampuan menyelesaikan persoalan masyarakat.
Dalam konteks Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam, tantangan tersebut memiliki relevansi yang sangat kuat. Perubahan ekonomi global, digitalisasi bisnis, perkembangan ekonomi syariah, fintech, kewirausahaan, serta meningkatnya kebutuhan terhadap literasi keuangan membutuhkan lulusan yang tidak hanya memahami teori ekonomi, tetapi juga mampu beradaptasi dengan perubahan.
Mahasiswa perlu dipersiapkan menjadi sumber daya manusia yang memiliki kompetensi sekaligus memiliki nilai dan integritas. Pengetahuan ekonomi dan bisnis harus dapat diterapkan untuk menciptakan aktivitas ekonomi yang produktif, inklusif, dan memberikan manfaat bagi masyarakat.
Dengan demikian, pendidikan tinggi dapat berkontribusi tidak hanya dalam menghasilkan lulusan, tetapi juga dalam menciptakan inovasi, membangun kewirausahaan, memperkuat ekonomi masyarakat, dan menjawab kebutuhan pembangunan.
Kemerdekaan dan Tanggung Jawab Generasi Muda
Kemerdekaan memberikan kesempatan kepada setiap generasi untuk menentukan masa depannya. Namun, kesempatan tersebut harus diikuti dengan tanggung jawab.
Generasi muda tidak cukup hanya menjadi penerima manfaat pembangunan. Mereka harus menjadi bagian dari proses pembangunan itu sendiri.
Belajar dengan sungguh-sungguh, mengembangkan kompetensi, menciptakan inovasi, membangun usaha, melakukan penelitian, serta memberikan kontribusi kepada masyarakat merupakan bentuk nyata dalam mengisi kemerdekaan.
Kemerdekaan juga harus diterjemahkan menjadi keberanian untuk terus belajar dan beradaptasi. Dunia akan terus berubah, teknologi akan terus berkembang, dan kebutuhan masyarakat akan terus bergerak.
Karena itu, pendidikan harus menjadi proses yang tidak berhenti ketika seseorang menyelesaikan pendidikan formal. Semangat belajar sepanjang hayat menjadi semakin penting dalam menghadapi dunia yang penuh perubahan.
Pendidikan sebagai Jalan Menjaga Kemerdekaan
Pada akhirnya, kemerdekaan bukan hanya tentang bagaimana bangsa Indonesia terbebas dari penjajahan, tetapi juga bagaimana bangsa ini memiliki kemampuan untuk menentukan masa depannya sendiri.
Kemampuan tersebut sangat ditentukan oleh kualitas sumber daya manusia.
Bangsa yang menguasai ilmu pengetahuan akan memiliki kemampuan untuk menentukan arah perubahan. Bangsa yang mampu menguasai teknologi akan memiliki daya saing. Dan bangsa yang memiliki manusia yang berkarakter, kompeten, serta berintegritas akan memiliki fondasi yang kuat untuk menjaga kedaulatannya.
Karena itu, investasi pendidikan harus ditempatkan sebagai agenda strategis pembangunan bangsa.
Momentum kemerdekaan hendaknya menjadi pengingat bahwa perjuangan belum selesai. Jika generasi terdahulu berjuang merebut kemerdekaan, maka generasi sekarang memiliki tanggung jawab untuk mengisi dan mempertahankan kemerdekaan melalui ilmu pengetahuan, inovasi, integritas, dan karya nyata.
Kemerdekaan memberi bangsa Indonesia hak untuk menentukan masa depan. Pendidikan memberikan kemampuan untuk mewujudkan masa depan tersebut.
Dengan investasi pendidikan yang konsisten, merata, berkualitas, dan berorientasi pada kebutuhan masa depan, Indonesia tidak hanya mampu menghadapi tantangan global, tetapi juga memiliki kekuatan untuk menyelesaikan berbagai problematika negeri dan mewujudkan cita-cita kemerdekaan.
Jambi, Kamis, 20 Agutus 2026 — Dalam rangka mendukung upaya pelestarian lingkungan dan kebersihan Sungai Batanghari, perwakilan Program Studi pariwisata syariah menghadiri kegiatan sosialisasi Gerakan
Jambi, Kamis, 20 Agutus 2026 — Dalam rangka mendukung upaya pelestarian lingkungan dan kebersihan Sungai Batanghari, perwakilan Program Studi pariwisata syariah menghadiri kegiatan sosialisasi Gerakan Batanghari Bersih yang diselenggarakan oleh Dinas Pariwisata Provinsi Jambi. Kegiatan tersebut berlangsung di Taman Mini Melayu Jambi dan diikuti oleh
Oleh : Dr. Kemas Imron Rosadi, M.PdWD 3 FEBI, Dosen Pascasarjana UIN STS Jambi Jambi — Kepemimpinan merupakan salah satu kemampuan penting yang harus dipersiapkan
Oleh : Dr. Kemas Imron Rosadi, M.PdWD 3 FEBI, Dosen Pascasarjana UIN STS Jambi Jambi — Kemerdekaan Indonesia yang diperingati setiap 17 Agustus bukan sekadar
jambi,17 Agustuas 2026 – Pekik merdeka dan gelak tawa membahana di halaman Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) Universitas Islam Negeri Sulthan Thaha Saifuddin (UIN